Jumat, 28 Oktober 2016
STRUKUTUR GEOLOGI PULAU JAWA
Tugas
Geologi
Pulau Jawa
Di Susun
O
L
E
H
Nama
: Iskan
Nim
: 451413070
Jurusan
Ilmu Dan Teknologi Kebumian
Fakultas
Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Univesritas
Negeri Gorontalo
2016
Sejarah Geologi Pulau Jawa
Menurut
para ahli, Pulau Jawa terbentuk akibat peristiwa vulkanik, yakni terjadinya
gempa yang disebabkan oleh tubrukan dua lempeng benua Australia dan Asia
sekitar 20 juta tahun sebelum masehi. Pada saat itu, daratan wilayah jawa
tengah dan jawa timur belum muncul dan masih berupa lautan. Kemudian sekitar
Lima juta tahun yang lalu konfigurasi serta bentuk pulau-pulau diIndonesia
sudah mirip dengan yang ada saat ini. Pulau Jawa dan pulau Sumatra sudah
terdapat gunung-gunung api yg aktif hingga saat ini. Patahan-patahan di sumatra
masih saja bergerak, juga saat itu patahan-patahan Jawa mulai terbentuk dan
semakin jelas.
Pendapat
mengenai anggapan bahwa kawasan jawa tengah dan jawa timur dulunya merupakan
dasar laut, ialah dengan di temukanya fosil – fosil binatang laut berusia
jutaan tahun di beberapa tempat di pulau ini. Salah satunya adalah sangiran dan
wonosari, Jawa tengah. Bukti lainya ialah dengan banyaknya dijumpai gunung
gamping di daerah selatan Pulau Jawa. Yang menurut para ahli geologi/kebumian,
bahwa gamping itu dulunya terumbu karang yg hidup dan berada di laut. Sebagai
contoh Pulau Seribu atau Great Barier di sebelah timur Australia.
Konon,
proses tersebut terjadi pada 20-36 juta tahun yang silam. Anak benua yang di
selatan sebagian terendam air laut, sehingga yang muncul di permukaan adalah
gugusan-gugusan pulau yang merupakan mata rantai gunung berapi. Gugusan
pulau-pulau di Asia Tenggara, yang sebagian adalah Nuswantoro (Nusantara), yang
pada zaman dahulu disebut Sweta Dwipa. Dari bagian daratan ini salah satunya
adalah gugusan anak benua yang disebut Jawata, yang satu potongan bagiannya
adalah pulau Jawa.
Proses Pembentukan Pulau Jawa
1.
Pengaruh
gerak lempeng
a. Kala kapur
hingga oligosen tengah diperkirakan busur vulkanis terbentuk di Pulau Jawa dan
satu busur vulkanis terbentuk di daratan Pulau Jawa.
b. Busur non
volkanis di perkirakan berumur eosen, tersusun oleh
fragmen kerak bumi yang tertimbun pada jalur subdaksi dan mengandung kwarsa.
c. Antar busur volkanis dan non
volkanis terdapat cekungan busur luar yang relative dalam, terletak
di sekitar pantai utara Jawa.
d. Akhir miosen dan oligosen
terjadi perubahan tegas yaitu jalur subdaksi bergeser ke selatan.
e. Busur volkanis diperkirakan di pantai selatan Pulau
Jawa sekarang. Gunung api muncul di dasar laut membentuk deretan gunung api.
Aktivitas vulkanik ini merupakan tahap pertama pembentukan Pulau Jawa.
f.
Satu busur gunungapi
dengan laut dangkal yang luas sampai Kalimantan (sampai pliosen
tengah)
g. Busur dalam bergeser ke utara hingga
pantai utara Jawa, laut dangkal mengalami pengangkatan membentuk daratan
sehingga sedimen marin muncul ke atas permukaan laut. Kala pliosen kuarter
garis besar pulau Jawa sudah terbentuk.
h. Akhir pliosen
di perkirakan Pulau Jawa sering tenggelam yang muncul hanya
perbukitan di bagian selatan Jawa.
2. Pengaruh
iklim
a.
Pada zaman kuarter
terjadi perubahan tegas iklim di bumi.
b.
Sebelumnya pada zaman
tersier iklim di wilayah Indonesia merupakan iklim tropis
lembab dengan suhu rata-rata pertahun lebih tinggi dari sekarang.
c.
Perubahan iklim menyebabkan berbagai peristiwa seperti
terjadinya zaman es dan zaman pencairan es, yang akibatnya terbentuk teras
marin, pembentukan sedimen pada lingkungan marin di darat dan pembentukan
sedimen darat di lingkungan marin.
d.
Pengaruh iklim tersebut berpengaruh pada proses pelapukan,
erosi, abrasi, dan gerak masa batuan, yang sangat menentukan bentukan
geomorfologis dan pembentukan tanah.
Struktur Geologi Daerah Jawa
Perkembangan tektonik pulau Jawa dapat dipelajari dari
pola-pola struktur geologi dari waktu ke waktu. Struktur geologi yang ada di
pulau Jawa memiliki pola-pola yang teratur. Secara geologi
pulau Jawa merupakan suatu komplek sejarah penurunan basin, pensesaran,
perlipatan dan vulkanisme di bawah pengaruh stress regime yang berbeda-beda
dari waktu ke waktu. Secara umum, ada tiga arah pola umum struktur yaitu arah
Timur Laut –Barat Daya (NE-SW) yang disebut pola Meratus, arah Utara – Selatan
(N-S) atau pola Sunda dan arah Timur – Barat (E-W) (Gambar 7).
Perubahan jalur penunjaman berumur
kapur yang berarah Timur Laut – Barat Daya (NE-SW) menjadi relatif Timur –
Barat (E-W) sejak kala Oligosen sampai sekarang telah menghasilkan tatanan
geologi Tersier di Pulau Jawa yang sangat rumit disamping mengundang pertanyaan
bagaimanakah mekanisme perubahan tersebut. Kerumitan tersebut dapat terlihat
pada unsur struktur Pulau Jawa dan daerah sekitarnya.
Gambar
7. Pola stuktur di Pulau Jawa berupa pola Meratus , pola Sunda dan arah Timur –
Barat (Sujanto dan Sumantri , 1977 dalam Natalia dkk., 2010).
Pola Meratus di bagian barat terekspresikan pada Sesar Cimandiri, di
bagian tengah terekspresikan dari pola penyebarab singkapan batuan pra- Tersier
di daerah KarangSambung.
Sedangkan di bagian
timur ditunjukkan oleh sesar pembatas Cekungan Pati, “Florence” timur, “Central
Deep”. Cekungan Tuban dan juga tercermin dari pola konfigurasi Tinggian Karimun
Jawa, Tinggian Bawean dan Tinggian Masalembo. Pola Meratus tampak lebih dominan
terekspresikan di bagian timur.
Pola Sunda berarah Utara - Selatan, di bagian barat tampak lebih
dominan sementara perkembangan ke arah timur tidak terekspresikan.Ekspresi yang
mencerminkan pola ini adalah pola sesar-sesar pembatas Cekungan Asri, Cekungan
Sunda dan Cekungan Arjuna.
Pola Sunda pada
Umumnya berupa struktur regangan.Pola Jawa di bagian barat pola ini diwakili
oleh sesar-sesar naik seperti sesar Beribis dan sesar-sesar dalam Cekungan
Bogor. Di bagian tengah tampak pola dari sesar-sesar yang terdapat pada zona
Serayu Utara dan Serayu Selatan (Gambar 8). Di bagian Timur ditunjukkan oleh
arah Sesar Pegunungan Kendeng yang berupa sesar naik.
Dari data stratigrafi dan tektonik diketahui bahwa pola
Meratus merupakan pola yang paling tua. Sesar-sesar yang termasuk dalam pola
ini berumur Kapur sampai Paleosen dan tersebar dalam jalur Tinggian Karimun
Jawa menerus melalui Karang Sambung hingga di daerah Cimandiri Jawa Barat.
Sesar ini teraktifkan kembali oleh aktivitas tektonik yang lebih muda.
Pola Sunda lebih muda dari pola Meratus. Data seismik
menunjukkan Pola Sunda telah mengaktifkan kembali sesar-sesar yang berpola
Meratus pada Eosen Akhir hingga Oligosen Akhir.
Pola Jawa menunjukkan pola termuda dan
mengaktifkan kembali seluruh pola yang telah ada sebelumnya (Pulunggono, 1994
dalam Natalia dkk., 2010 ). Data seismik menunjukkan bahwa pola sesar naik
dengan arah barat-timur masih aktif hingga sekarang.
Gambar
8. Pola struktur dan sesar di Pulau Jawa ( Natalia dkk., 2010)
TOPOGRAFI
PULAU JAWA
Pulau Jawa memiliki
sifat fisiografi yang khas, dan hal ini disebabkan karena beberapa keadaan.
Satu di antaranya adalah iklim tropis, disamping itu ciri-ciri geografisnya
disebabkan karena merupakan geosinklinal muda dan jalur orogenesa dengan banyak
vulkanisme yang kuat. Karena kekuatan inilah mengakibatkan Pulau Jawa berbentuk
memanjang dan sempit.
Perubahannya dalam
bagian-bagian tertentu sepanjang dan searah dengan panjangnya pulau, dari tepi
satu ke tepi yang lainnya. Sifat relief yang disebabkan oleh iklim tropis sudah
diketahui dan dipetakan di Indonesia. Curah hujan yang besar dan temperatur
yang tinggi menyebabkan pelapukan yang cepat dan intensif, juga denudasi,
gejala yang mengikuti adalah erosi vertikal.
Perbedaan topografi yang disebabkan
adanya perbedaan batu-batuannya nampak kurang jelas bila dibandingkan dengan
daerah iklim lain, meskipun lembah kecil mempunyai tebing yang curam. Akibatnya
banyak hujan berarti banyak air yang harus dibuang, sehingga banyak parit alam
(guliy) yang begitu rapat.
Karena banyaknya parit-parit yang
rapat tersebut topografinya terkikis-kikis. Akibatnya sisa-sisa permukaan yang
dulu pernah terangkat hilang dalam waktu yang singkat.Sebaliknya peneplain dan
lain-lain yang permukaannya datar juga terbentuk dalam waktu yang singkat dari
pada iklim yang lainnya. Dalam hal ini mungkin mengherankan mengapa topografi
Pulau Jawa semuanya belum merupakan peneplain? Hal ini karena erosi dan
denudasi dapat diimbangi orogenesa muda dan epirogenesa yang masih bergerak,
yang mana gerak pelipatan masih terus berlangsung dalam sebuah periode dari era
pleistosen, tapi di balik itu semua gunung berapi banyak mengeluarkan
bahan-bahan material yang lebih banyak daripada apa yang dihasilkan oleh gejala
erosi pada permukaan tanah.
Penggolongan
Zona Fisiografi Jawa
Zona fisiografi di jawa
dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Zona selatan,
Kurang lebih berupa plato, berlereng
(miring) ke arah selatan menuju Laut Hindia dan di sebelah utara berbentuk
tebing patahan. Kadang zona ini begitu terkikis sehingga kehilangan bentuk
platonya. Di Jawa tengah bagian dari zona ini telah ditempati oleh dataran
aluvial.
2. Zona tengah,
Di Jawa Timur dan sebagian dari Jawa
Barat merupakan depresi. Ditempat-tempat tersebut muncul kelompok gunung berapi
yang besar. Di Jawa Tengah sebagian dari zona tengah ditempati oleh rangkaian
pegunungan serayu selatan, berbatasan disebelah utaranya dengan depresi yang
lebih kecil, lembah serayu. Juga di bagian paling barat daerah Banten ditempati
oleh bukit-bukit dan pegunungan.
3. Zona utara,
Terdiri dari rangkaian gunung lipatan
berupa bukit-bukit rendah atau pegunungan dan diselingi oleh beberapa
gunung-gunung api. Dan ini biasanya berbatasan dengan dataran aluvial.
Sifat Ketiga Zona dari Sudut
Geologi:
1. Zona Selatan
Di zona selatan ini lapisan yang
lebih tua terdiri dari endapan vulkanis yang tebal (breksi tua) dan bahan-bahan
endapan (seperti tanah anulatus) yang terlipat pada waktu periode miosen
tengah. Di bagian selatan zona ini mengalami lipatan sedikit saja, tetapi
lipatan ini menjadi lebih kuat dekat batas sebelah utara. Daerah ini merupakan
daerah peralihan ke zona tengah. Bagian ini ditutupi secara tidak selaras (unconform)
oleh bahan-bahan yang tidak terlepas dari miosen atas.
Di banyak tempat lapisan ini telah
dipengaruhi gerakan miring (tilted). Dibeberapa tempat dasar (alas/bed)
miosen atas ini terdiri dari batuan kapur yang mempunyai pengaruh yang sangat
nyata pada topografi. Endapan yang lebih muda dari miosen muda mungkin
pleistosen tua hampir tidak ada.
2. Zona Tengah
Seperti di Jawa Timur zona ini
ditempati oleh depresi yang diisi oleh endapan vulkanik muda. Sifat geologisnya
hanya dapat dilihat dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Gerakan orogenesa miosen
tengah dan miosen muda sangat kuat (terkuat) di zona ini dan sering menyebabkan
lipatan menjungkir atau membentuk struktur yang menjorok menyebabkan batuan
tertier juga lapangan pretertier tertutup. (Pegunungan Jiwo, daerah Lekulo
di Jawa Tengah, Pegunungan Raja Mandala, Lembah Cimandiri dan Banten bagian
selatan).
Pada periode neogene terdapat juga
beberapa lapisan tak selaras dan sedikit lipatan yang terjadi pada atau setelah
akhir neogen. Pegunungan berapi dan gerakan lipatan yang terdapat
didepresi tengah menyebabkan terbentuknya topografi-topografi yang khas.
3. Zona Utara
Di zona ini lapisan neogen muda
lebih tebal dibanding zona lainnya, dan ini adalah inti dari gerakan
geosinklinal muda. Lipatan yang lebih tua terjadi sejak dari periode miosen
atas. Lipatan ini nampak lebih jelas dari zona tengah tetapi juga dapat dilihat
di zona utara dari jawa tengah. Di lain tempat pengendapan bahkan mungkin
berlangsung selama periode miosen tengah dan miosen atas.
Di igir Pegunungan Kendeng (Jawa
Timur) pengendapan pada geosinklinal berjalan terus sampai pleistosen tengah.
Selama pleistosen tengah orogenesa dihasilkan dari lipatan yang keras dengan
lipatan yang terbalik (upturned fold and thrust). Lebih menuju ke
periode kwarter mungkin dapat dilihat tetapi pelipatan pleistosen tengah
berjalan terus dan menonjol.
Di jawa barat gerakan pelipatan utama
terjadi pada permulaan pleistosen kemudian diikuti oleh gerakan lipatan yang
lemah setelah periode igir pleistosen tua. Di sebelah utara igir Pegunungan
Kendeng di Jawa Timur, terdapat jalur yang tidak mempunyai lanjutan di Jawa
Tengah dan di Jawa Barat tetapi bagian ini memanjang ke timur ke Madura. Bagian
yang terdapat di bagian sebelah utara igir Pegunungan Kendeng ini disebut
Perbukitan Rembang.
Di daerah ini lapisan neogen jauh
lebih tipis daripada di Pegunungan Kendeng dan terdiri sebagian dari batuan
kapur. Zona ini terletak di sebelah utara dari poros geosinklinal neogen,
membentuk daerah peralihan antara masa dataran yang sekarang ditempati oleh
Laut Jawa yang terjadi pada zaman miosen dengan poros Pegunungan Kendeng itu
sendiri. Beberapa pengendapan berjalan terus selama periode atau bagian dari
era pleistosen, selama mana gerakan lipatan sedikit mengakhiri pengendapan.
Stratigrafi
pulau jawa
Stratigrafi
di daerah ini terdiri dari batuan berumur Tersier hingga Kuarter. Formasinya
antara lain: Formasi Pemali, Formasi Rembatan, Formasi Haling, Batuan
Terobosan, Formasi Kumbang, Formasi Tapak, Formasi Kalibiuk, Formasi Kaligala,
Formasi Ligung, Formasi Mengger, Formasi Gintung, Formasi Lingopodo, dan Aluvial
( Djuri dkk, 1996 ). Selain itu juga terdapat beberapa penelitian yang
terdahulu yang membuat stratigrafi daerah penelitian antara lain: Van Bemmelan
(1949), Marks (1957), Kartanegara dkk, (1987), dan Kastowo dan Suwarna (1996).
Pembahasan stratigrafi regional mengacu kepada peneliti-peneliti tersebut.
Batuan
Terobosan
Batuan ini terdiri
dari profir mikrodiorit, berwarna coklat tua dan hitam, pejal, lapuk.
Bertekstur holokristalin subdiabas porfirit dengan fenokris felspar dan
mineral-mineral felmis. Sebagian mineral felmis lapuk sehingga berongga-rongga
( Djuri dkk, 1996 ). Batuan ini diperkirakan berumur tersier.
Formasi
Rambatan
Formasi ini
terdiri dari serpih, napal dan batu pasir gampingan. Napal berselang-seling
dengan batu pasir gampingan berwarna kelabu muda. Banyak ditemukan lapisan
tipis kalsit yang tegak lurus bidang perlapisan ( Djuri dkk, 1996 ). Mengenai
umur formasi ini masih ada perbedaan pendapat dari beberapa peneliti terdahulu.
Kandungan foraminifera besar menunjukkan umur miosen tengah sedangkan
berdasarkan kandungan foraminifera plankton berumur Miosen akhir-pliosen Awal (
N14-N 18) (Kartanegara dkk, 1987). Formasi ini memiliki tebal sekitar 300 meter
(Djuri dkk, 1996).
Formasi
Halang
Formasi ini
terdiri dari batu pasir, terdapat bekas jejak cacing, foraminifera kecilnya
menunjukkan umur Miosen akhir hingga Pliosen. Formasi ini memiliki ketebalan
800 meter (Djuri dkk, 1996). Formasi Halang merupakan jenis endapan sedimen
terdirit pada zona bathyal atas ( Kastowo dan Suwarna, 1996). Dibeberapa tempat
pada bagian atas formasi ini, dijumpai batu gamping terumbu (Marks 1957).
Formasi
Kumbang
Formasi
ini terdiri dari batu pasir berbutir kasar berwarna kehijauan, konglomerat dan
breksit andesit. Di bagian atas terdiri dari batu pasir gampingan dan napal
berwarna hijau yang mengandung pecahan moluska. For masi Tapak memiliki dua
anggota, yaitu: Anggota Breksi Formasi Tapak dan Anggota Batugamping Formasi
Tapak (Djuri dkk, 1996). Anggota breksi terdiri dari breksi gunungapi dengan
matriks batupasir tufan dan dibeberapa tempat terdapat kalsit yang mengisi
celah-celah. Anggota batugamping terdiri dari lensa-lensa berwarna kelabu
kekuningan dan tidak berlapis. Formasi Tapak memiliki ketebalan sekitar 500 m.
formasi ini memiliki umur Miosen Tengah-Pliosen Awal (Djuri dkk, 1996). Formasi
ini diendapkan secara selaras Formasi Kalibiuk.
Formasi
Kalibiuk
Formasi ini
terdiri dari napal lempungan bersisipan batu batupasir. Batupasir di formasi
ini kaya akan moluska (Djuri dkk, 1996). Pada bagian tengah formasi ini
terdapat sisipan lensa-lensa batupasir hijau yang mengandung moluska yang
melimpah dari kelompok cheribonian
molusca yang mencirikan fasies pasang surut yang berumur Pliosen (Marks,
1957). Formasi ini dapat disetarakan dengan formasi Cijulang dibagian barat
atau dengan Bodas Series dibagian
timur (Marks, 1957). Formasi ini memiliki ketebalan sekitar 175 meter (Djuri
dkk, 1996).
Formasi
Kaligalah
Formasi ini
teridir dari batu lempung, napal, batupasir, dan konglomerat. Dibeberapa tempat
terdapat lensa lignit setebal 10-100 cm (Djuri dkk, 1996). Pada lapisan lignit
atau batubara muda tersebut ditemukan fosil mamalia dan moluska air tawar
dengan indikasi umur Pliosen Akhir (Marks, 1957). Menurut koengniswald (1935, op.cit.Marks, 1957), mamalia yang
ditemukan disatuan ini, Djuri dkk, (1996) memberikan umur Pliosen Akhir juga.
Formasi
Ligung
Formasi ini
terdiri dari aglomerat andesit, breksi dan tuff kelabu di beberap tempat (Djuri
dkk, 1996). Formasi ini memiliki anggota, yaitu Anggota Lempung Formasi Ligung.
Anggota Lempung Formasi Ligung ini terdiri dari batu lempung tufan, batupasir
tufan berlapis silang siur dan konglomerat. Dibeberapa tempat terdapat juga
sisa tumbuhan dan batubara muda yang mengindikasikan lingkungan pengendapan
berada darat bukan laut (Djuri, dkk 1996).
Formasi
Mengger
Formasi ini
terdiri dari tuf berwarna kelabu muda, batupasir tufan, konglomerat, dan
batupasir dengan fragem magnetit (Djuri dkk, 1996). Pada formasi ini ditemukan
fosil mamalia yang termasuk kedalam kategori upper vertebrate zone yang menunjukkan umur Pleistosen Awal (Marks,
1957). Ketebalan formasi ini diperkirakan sekitar 150 m (Djuri dkk, 1996).
Formasi
Gintung
Formasi ini
terdiri dari konglomerat dengan fragmen andesit, batupasir berwarna kehijauan,
batulempung dengan konkresi batugamping pasiran dan tuff (Djuri dkk, 1996).
Satuan ini berada diatas upper vertebrate
zone sehingga satuan ini diperkirakan berumur Pleistosen Tengah-akhir
(Marks, 1957).
Formasi
Linggopodo
Formasi ini
terdiri dari breksi gunung api, tuff dan lahar yang diduga sebagai hasil
kegiatan gunung Slamet atau Gunung Copet ( Van Bemmelan, 1949 ). Satuan ini
menindih tak selaras dengan satuan dibawahnya, serta ditutupi oleh endapan
Gunung Slamet Purba.
Satuan
Aluvial
Satuan ini terdiri
dari batupasir, batulanau, batugamping, jasper dan andesit. Berukuran lanau,
pasir, kerikil, dan kerakal dengan tebal kurang dari 150 m. satuan ini diendapkan
di sepanjang sungai.
STRUKTUR
GEOLOGI JAWA TIMUR
Gambaran Umum Jawa Timur dilihat
dari Aspek Geologi
Provinsi Jawa
Timur terletak pada 111˚0’ hingga 114˚4’ Bujur Timur, dan
7˚12’ hingga 8˚48’ Lintang Selatan. Luas wilayah
Provinsi Jawa Timur mencapai 46.428 km², terbagi kedalam empat badan koordinasi
wilayah (Bakorwil), 29 kabupaten, Sembilan kota, dan 658 kecamatan dengan 8.457
desa/kelurahan (2.400 kelurahan dan 6.097 desa).
Secara umum wilayah Jawa Timur terbagi dalam dua bagian
besar, yaitu Jawa Timur daratan hampir mencakup 90% dari seluruh luas wilayah
Provinsi Jawa Timur, dan wilayah Kepulauan Madura yang sekitar 10% dari luas
wilayah Jawa Timur. Di sebelah utara, Provinsi Jawa Timur berbatasan dengan
Laut Jawa. Di sebelaht timur berbatasan dengan Selat Bali.Di sebelah selatan
berbatasan dengan perairan terbuka, Samudera Indonesia, sedangkan di sebelah
barat berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah.
Secara umum wilayah Provinsi Jawa Timur merupakan kawasan
subur dengan berbagai jenis tanah seperti Halosen, Pleistosen, Pliosen, Miosen,
dan Kwarter yang dipengaruhi adanya gunung berapi, sekitar 20,60 % luas wilayah
yaitu wilayah puncak gunung api dan perbukitan gamping yang mempunyai sifat
erosif, sehingga tidak baik untuk dibudidayakan sebagai lahan pertanian.
Sebagian besar wilayah Jawa Timur mempunyai kemiringan tanah 0-15 %, sekitar
65,49 % dari luas wilayah yaitu wilayah dataran aluvial antar gunung api sampai
delta sungai dan wilayah pesisir yang mempunyai tingkat kesuburan tinggi dan
dataran aluvial di lajur Kendeng yang subur, sedang dataran aluvial di daerah
gamping lajur Rembang dan lajur Pegunungan Selatan cukup subur.
Kondisi geologi Jawa Timur yang cukup kaya akan potensi
sumberdaya mineral, memiliki sekitar 20 jenis bahan galian yang mendukung
sektor industri maupun konstruksi, yang secara umum dapat dikelompokkan menjadi
empat lajur, yaitu: pertama lajur Rembang terbentuk oleh batu lempung napalan
dan batu gamping merupakan cekungan tempat terakumulasinya minyak dan gas bumi;
kedua lajur Kendeng terbentuk batu lempung dan batupasir, potensi lempung,
bentonit, gamping; ketiga lajur Gunung Api Tengah terbentuk oleh endapan
material gunung api kuarter, potensi bahan galian konstruksi berupa batu pecah
(bom), krakal, krikil, pasir, tuf; keempat lajur Pegunungan Selatan terbentuk
oleh batu gamping dengan intrusi batuan beku dan aliran lava yang mengalami
tekanan, potensi mineral logam, marmer, onyx, batu gamping, bentonit, pospat.
Struktur Geologi Jawa Timur
·
Cekungan Jawa Timur Utara
Cekungan Jawa Timur Utara sebelah barat dibatasi oleh Busur
Karimun jawa dimana memisahkannya dengan Cekungan Jawa Barat Utara, di sebelah
selatan dibatasi oleh busur vulkanik, sebelah timur dibatasi oleh Cekungan
Lombok dan sebelah utara dibatasi oleh Tinggian Paternoster, dimana
memisahkannya dengan selat Makasar.
Berdasarkan posisinya, Cekungan Jawa Timur Utara dapat
dikelompokkan sebagai cekungan belakang busur dan berada pada batas tenggara
dari lempeng Eurasia.
·
Kerangka Tektonik Cekungan Jawa
Timur Utara
Graben, half-graben, dan sesar-sesar hasil dari proses
rifting telah dihasilkan
pada
periode ekstensional yaitu pada Paleogen. Selanjutnya periode kompresi dimulai
pada Miosen Awal yang mengakibatkan reaktivasi sesar-sesar yang telah terbentuk
sebelumnya pada periode ekstensional. Reaktivasi tersebut mengakibatkan
pengangkatan dari graben-grabenyang sebelumnya terbentuk menjadi tinggian yang
sekarang disebut sebagai Central High. Pada saat sekarang, Cekungan Jawa Timur
Utara dikelompokkan ke dalam tiga kelompok struktur utama dari arah utara ke
selatan, yaitu North Platform, Central Highdan South Basin
Perubahan
struktur juga terjadi pada konfigurasi basement dari arah barat ke timur.
Bagian barat pada Platform Utara dapat dikelompokkan menjadi Muria Trough, Bawean Arc, JS-1 Ridge, Norhteast Java
Platform, Central-Masalembo Depression, North Madura Platformdan JS
19-1Depression. Sedangkan pada South Basin, dari barat ke timur dapat
dikelompokkan menjadi North East Java Madura Sub-Basin(Rembang-Madura
Strait-Lombok Zone), South Madura Shelf (kelanjutan dari Zona Kendeng) dan Solo
Depression Zone. Pada Central High tidak ada perubahan struktur yang berarti
dari arah barat ke timur. Daerah Cepu termasuk ke dalam South Basinsebelah
barat, dimana termasuk ke dalam Zona Rembang bagian selatan. Pada konfigurasi
basement yang lebih detail, daerah Cepu termasuk ke dalam Kening Trough.
STRUKTUR
GEOLOGI JAWA TENGAH
Daerah Jawa Tengah merupakan bagian
yang sempit diantara bagian yang lain dari pulau jawa. Derah Jawa Tengah
tersebut terbentuk oleh dua pegunungan yaitu Pegunungan Serayu Utara yang
berbatasan dengan jalur Pegungungan Bogor di sebelah barat dan Pegunungan
Kendeng di sebeah timur, serta Pegunungan Serayu Selatan yang merupakan terusan
dari Depresi Bandung di Jawa Barat. Di jawa tengah dapat pula ditemui di gunung
bujil yang berupa dike basaltik yang memotong farmasi karang sambung di bayat
dapat ditemui diperbukitan jiwo berupa dike basaltik dan stok gabroik yang
memotong sekis kristalin dan farmasi gampin wungkal.magmatisme oligosen miosen
tengah pulau jawa terbentuk oleh rangkaian gunung api yang berumur
oligosen-meosen tengah dan poliosen-kuarter.
Fisiografi dan pagunungan regional
Stratigrafi pegunugan kulon progo
daerah penelitian yang merupakan daerah sebelah timur dari pegunungan serayu
selatan,secara stratigrafis termasuk daerah kulon progo.unit stratigrafis yang
paling tua di daerah pegunungan kulon progo dikenal dengan formasi nanggulan.
1) Formasi nanggulan :merupakan farmasi
yang paling tua di daerah pegunungan kulon progo.slingkapan batuan-batuan
penyusun dari farmasi nanggulan,dijumpai di sekitar desa nanggulan,yang
merupakan kaki sebelah timur dari pegunungan kulon progo.
2) Formasi andesit :merupakan tua Batuan penyusun dari formasi ini
trdiri atas braksi andesit,tuf,tuf tapili,aglomerat dan sisipan aliran lava
andesit.formasi andesit ini dengan ketebalan 500 meter mempunyai kedudukan yang
tidak selaras di atas formasi nanggulan.
3) Formasi jonggrangan :merupakan suatu
desa yang ketinggiannyan di atas 700 meter dari muka air laut dan disebut
sebagai plato jonggrangan.bagian bawah dari formasi ini terdiri dari
konglomerat yang ditumpangi oleh napal tufan batu pasir gampingan dengan
sisipan lignit.batuan ini semakin ke atas menjadi batu gamping koral,formasi
jonggrangan ini terletak secara tidak selaras teletak di atas formasi andesit
tua.ketebalan dari formasi janggrangan mencapai sekitar 250 meter
4) Formasi sentolo : Litologi penyusun
formasi sentolo ini dibagian bawah, terdiri dari
agromerit dan napal,semakin ke atas berubah menjadi batu gamping berlapis
dengan fasies neritik.umur formasi sentolo ini berdasarkan penelitian terhadap
fosil foraminifera plantonik adalah berkisar antara Miosen awal sampai
Pliosen.formasi sentolo ini mempunyai ketebalan sekitar 950 meter.
Geologi
Regional Cekungan Jawa Timur.
Secara geologi Cekungan Jawa Timur
terbentuk karena proses pengangkatan dan ketidakselarasan serta proses-proses
lain, seperti penurunan muka air laut dan pergerakan lempeng tektonik. Tahap
awal pembentukan cekungan tersebut ditandai dengan adanya half graben yang dipengaruhi oleh struktur yang terbentuk
sebelumnya. Tatanan tektonik yang paling muda dipengaruhi oleh pergerakan
Lempeng Australia dan Sunda. Secara regional perbedaan bentuk struktural
sejalan dengan perubahan waktu.Pegununggan serayu utara memliki las 30-50
km,pada bagian barat di batasi oleh gunung selamet dan di bagian timur ditutupi
oleh endapan gunung api muda.Gunung perahu dan gunung ungaran merupakan gunug
api kwarter yang menjadi bagian paling timur dari pegunungan serayu
utara.Daerah gunung ungaran ini di sebelah utara berbatasan dengan dataran
aluvial jawa di bagian utara ,di bagian selatan merupakan jalur pegunungan api
kwarter, di bagian tmur berbatasan dengan pegunungan kendeng .Di bagian utara
pulau jawa ini merupakan geo sinklin yang memanjang dari barat ke timur.
a. Batuan Pra-Tersier
Merupakan semua batuan yang
berumur lebih tua dari Tersier, mendasari batuan Kenozoikum biasanya telah
mengalami ubahan. Di Jawa Timur bagian Utara batuan Pra-Tersier tidak
tersingkap di permukaan dan kehadirannya hanya dapat diketahui dari sumur-sumur
pemboran yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan minyak bumi yang beroperasi
di Indonesia. Batuan Pra-Tersier terletak secara tidak selaras di bawah batuan
Sedimen-Tersier.
b. Formasi Ngimbang
Sedimen yang terjadi di
Formasi Ngimbang berupa batulempung, batupasir dan batuan karbonat yang
terendapkan pada lingkungan darat-fluvial deltaic sampai laut dangkal. Formasi
ini berumur Eosen Tengah sampai Oligosen Tengah Eosen Tengah-Oligosen tengah,
terjadi proses sedimentasi pertama didaerah cekungan dengan terendapnya Formasi
Ngimbang.
c. Formasi Kujung
Formasi Kujung pada bagian
tinggiannya, berkembang sebagai batugamping terumbu, sedangkan di daerah
cekungan berkembang sebagai batugamping klastik dan batulempung. Proses
transgresi terus berlangsung hingga pada masa Oligosen Tengah – Miosen Bawah.
d. Formasi Tuban
Pada daerah tinggian
Formasi Tuban, berkembang batu gamping terumbu sebagai kelanjutan pertumbuhan
terumbu Formasi Kujung sedangkan di daerah cekungan diendapkan secara dominan
batulempung dan batulanau dengan sisipan batugamping klastik. Pengaruh proses
transgresi yang lebih besar pada umur Miosen Tengah – Miosen Atas menyebabkan
seluruh daerah tinggian menjadi tenggelam.
e. Formasi Ngrayong
Formasi ini ditandai dengan adanya lapisan
batupasir kuarsa dan batugamping klastik. Ciri litologinya adalah batulempung
dan batupasir, dengan sedikit sisipan batugamping. Umur Formasi Ngrayong adalah
Miosen Tengah. Formasi Ngrayong terletak selaras di atas Formasi Tuban
dan diendapkan secara selaras di bawah Formasi Wonocolo.
f. Formasi Wonocolo
Formasi
Wonocolo terdiri dari batulempung karbonat berwarna kelabu yang halus serta
marl dengan batugamping yang keras berwarna putih. Ciri pengenal adalah napal,
napal lempungan, napal pasiran, kaya akan foraminifera plangtonik dengan sisipan
kalkarenit. Stratigrafinya adalah Miosen Akhir bagian bawah- Miosen akhir
bagian tengah atau Zona N15-N16 (Blow,1969).
g. Formasi Kawengan
Formasi Kawengan terdiri dari dua
anggota (member) yaitu :
·
Member Mundu (Pliosen Awal – Pliosen Akhir),
yang tersusun oleh napal dan napal pasiran serta batugamping pasiran. Formasi
ini terendapkan setelah Formasi Ledok yang dipengaruhi oleh proses regresi ke
transgresi.
·
Member Ledok (Miosen Awal- Pliosen
Awal), yang tersusun oleh batupasir gampingan, batugamping pasiran dan napal,
formasi ini diendapkan di atas Formasi Wonocolo. Batugamping terumbu pada
formasi ini oleh sebagian peneliti disebut Karren Limestone.
h. Formasi Lidah
Formasi
Lidah didominasi oleh endapan napal, yang dipengaruhi oleh proses transgresi
yang terus berlangsung hingga Pleistosen, sehingga menyebabkan pendalaman
daerah cekungan. Ciri pengenalnya adalah lempung biru tua yang monoton, bagian
atas satuan ini dijumpai lapisan batupasir kwarsa sedangkan Anggota Malo dari
Formasi Lidah terdiri atas batugamping Coquina.
STRUKTUR GEOLOGI JAWA BARAT
Jawa Barat memiliki arah pola umum struktur Timur Laut –Barat Daya (NE-SW) yang disebut
pola Meratus, dari data stratigrafi dan tektonik diketahui bahwa pola Meratus
merupakan pola yang paling tua. Sesar-sesar yang termasuk dalam pola ini
berumur Kapur sampai Paleosen dan tersebar dalam jalur Tinggian Karimun Jawa
menerus melalui Karang Sambung hingga di daerah Cimandiri Jawa Barat. Sesar ini
teraktifkan kembali oleh aktivitas tektonik yang lebih muda. Pola Sunda lebih
muda dari pola Meratus. Data seismik menunjukkan Pola Sunda telah
mengaktifkan kembali sesar-sesar yang berpola Meratus pada Eosen Akhir hingga
Oligosen Akhir.
Pola Jawa di bagian barat pola ini
diwakili oleh sesar-sesar naik seperti sesar Beribis dan sear-sear dalam
Cekungan Bogor. Di bagian tengah tampak pola dari sesar-sesar yang terdapat
pada zona Serayu Utara dan Serayu Selatan. Di bagian Timur ditunjukkan oleh
arah Sesar Pegunungan Kendeng yang berupa sesar naik.
Menurut Harsono P. (1983) Stratigrafi daerah kendeng terbagi menjadi
dua cekungan pengendapan, yaitu Cekungan Rembang (Rembang Bed) yang membentuk
Pegunungan Kapur Utara, dan Cekungan Kendeng (Kendeng Bed) yang membentuk
Pegunungan Kendeng. Formasi yang ada di Kendeng adalah sebagi berikut:
1. Formasi Kerek
Formasi ini mempunyai ciri khas berupa
perselingan antara lempung, napal lempungan, napal, batupasir tufaan gampingan
dan batupasir tufaan. Perulangan ini menunjukkan struktur sedimen yang khas
yaitu perlapisan bersusun (graded bedding) yang mencirikan gejala flysch.
Berdasarkan fosil foraminifera planktonik dan bentoniknya, formasi ini
terbentuk pada Miosen Awal – Miosen Akhir ( N10 – N18 ) pada lingkungan shelf.
Ketebalan formasi ini bervariasi antara 1000 – 3000 meter. Di daerah Lokasi
Tipe, formasi ini terbagi menjadi 3 anggota (de Genevreye & Samuel, 1972),
dari tua ke muda masing-masing : a. Anggota Banyu Urip Tersusun
oleh perselingan antara napal lempungan, napal, lempung dengan batupasir tuf gampingan
dan batupasir tufaan dengan total ketebalan 270 meter. Pada bagian tengah
perselingan ini dijumpai batupasir gampingan dan tufaan setebal 5 meter,
sedangkan bagian atas ditandai oleh adanya perlapisan kalkarenit pasiran
setebal 5 meter dengan sisipan tipis dari tuf halus. Anggota ini berumur N10 –
N15 (Miosen Tengah bagian tengah – atas). b. Anggota Sentul Tersusun oleh
perulangan yang hampir sama dengan Anggota Banyuurip, tetapi lapisan yang
bertufa menjadi lebih tebal. Ketebalan seluruh anggota ini mencapai 500 meter.
Anggota Sentul diperkirakan berumur N16 (Miosen Tengah bagian bawah). c.
Batugamping Kerek Anggota teratas dari Formasi Kerek ini tersusun oleh
perselang-selingan antara batugamping tufan dengan perlapisan lempung dan tuf.
Ketebalan dari anggota ini adalah 150 meter. Umur dari Batugamping Kerek ini
adalah N17 (Miosen Atas bagian tengah).
2. Formasi Kalibeng
Formasi ini terletak selaras di atas Formasi
Kerek. Formasi ini terbagi menjadi dua anggota yaitu Formasi Kalibeng Bawah dan
Formasi Kalibeng Atas. Bagian bawah dari Formasi Kalibeng tersusun oleh napal
tak berlapis setebal 600 meter berwarna putih kekuningan sampai abu-abu
kebiruan, kaya akan foraminifera planktonik. Asosiasi fauna yang ada
menunjukkan bahwa Formasi Kalibeng bagian bawah ini terbentuk pada N17 – N21
(Miosen Akhir – Pliosen). Pada bagian barat formasi ini oleh de Genevraye &
Samuel, 1972 dibagi menjadi Anggota Banyak, Anggota Cipluk, Anggota Kalibiuk,
Anggota Batugamping, dan Anggota Damar. Di bagian bawah formasi ini terdapat
beberapa perlapisan batupasir, yang ke arah Kendeng bagian barat berkembang
menjadi suatu endapan aliran rombakan debris flow, yang disebut Formasi Banyak
(Harsono, 1983, dalam Suryono, dkk., 2002). Sedangkan ke arah Jawa Timur bagian
atas formasi ini berkembang sebagai endapan vulkanik laut yang menunjukkan
struktur turbidit. Fasies tersebut disebut sebagai Formasi Atasangin, sedangkan
bagian atas Formasi Kalibeng ini disebut sebagai Formasi Sonde yang tersusun
mula – mula oleh Anggota Klitik, yaitu kalkarenit putih kekuningan, lunak,
mengandung foraminifera planktonik maupun foraminifera besar, moluska, koral,
alga, bersifat napalan atau pasiran dan berlapis baik. Bagian atas bersifat
breksian dengan fragmen gamping berukuran kerikil sampai karbonat, kemudian
disusul endapan bapal pasiran, semakin ke atas napalnya bersifat lempungan,
bagian teratas ditempati napal lempung berwarna hijau kebiruan.
3. Formasi Pucangan
Di bagian barat dan tengah Zona
Kendeng formasi ini terletak tidak selaras di atas Formasi Sonde. Formasi ini
penyebarannya luas. Di Kendeng Barat batuan ini mempunyai penyebaran dan
tersingkap luas antara Trinil dan Ngawi. Ketebalan berkisar antara 61 – 480 m,
berumur Pliosen Akhir (N21) hingga Plistosen (N22). Di Mandala Kendeng Barat
yaitu di daerah Sangiran, Formasi Pucangan berkembang sebagai fasies vulkanik
dan fasies lempung hitam.
4. Formasi Kabuh
Formasi Kabuh terletak selaras di atas Formasi
Pucangan. Formasi ini terdiri dari batupasir dengan material non vulkanik
antara lain kuarsa, berstruktur silangsiur dengan sisipan konglomerat dan tuff,
mengandung fosil Moluska air tawar dan fosil – fosil vertebrata berumur
Plistosen Tengah, merupakan endapan sungai teranyam yang dicirikan oleh
intensifnya struktur silangsiur tipe palung, banyak mengandung fragmen
berukuran kerikil. Di bagian bawah yang berbatasan dengan Formasi Pucangan
dijumpai grenzbank. Menurut Van Bemmelen (1972) di bagian barat Zona Kendeng
(daerah Sangiran), formasi ini diawali lapisan konglomerat gampingan dengan
fragmen andesit, batugamping konkresi, batugamping Globigerina, kuarsa, augit,
hornblende, feldspar dan fosil Globigerina. Kemudian dilanjutkan dengan
pembentukan batupasir tuffaan berstruktur silangsiur dan berlapis mengandung
fragmen berukuran kecil yang berwarna putih sampai cokelat kekuningan.
5.
Formasi Notopuro
Terletak tidak selaras di atas
Formasi Kabuh. Litologi penyusunnya terdiri dari breksi lahar berseling dengan
batupasir tufaan dan konglomerat vulkanik. Makin ke atas, sisipan batupasir
tufaan makin banyak. Juga terdapat sisipan atau lensa – lensa breksi vulkanik
dengan fragmen kerakal, terdiri dari andesit dan batuapung, yuang merupakan
ciri khas Formasi Notopuro. Formasi ini pada umumnya merupakan endapan lahar
yang terbentuk pada lingkungan darat, berumur Plistosen Akhir dengan ketebalan
mencapai lebih dari 240 meter.
6. Formasi Undak Bengawan Solo
Endapan ini terdiri dari konglomerat polimik
dengan fragmen batugamping, napal dan andesit di samping batupasir yang
mengandung fosil-fosil vertebrata, di daerah Brangkal dan Sangiran, endapan
undak tersingkap baik sebagai konglomerat dan batupasir andesit yang agak terkonsolidasi
dan menumpang di atas bidang erosi pad Formasi Kabuh maupun Notopuro.
Referensi ;
Natalia, Eka P., Taufiq Andhika , Roid Faqih M., Dharmaleksa
S.E.P, Ade AkhyarNurdin , Belly Dharana Kertiyasa , Novianto Dwi Nugrohao, Bayu
Hari Utomo. 2010.”Geologi Pulau Jawa”. Univesitas Jenderal Soedirman: Purbalingga.
Bemmelen K.W.Van.1949. The Geology of Indonesia vol.general
Geology of Indonesia and Adjecent Archipelagoes.Government Printing Office : Haque.
Putnam John.1964.
Geology.Oxford Univercity Press : New York.
Whittow Jhon.1984.Dictionary
of phisical Geography.penguin Books : Hiedlesex
Lluly,james,Cs.1963.Principle
of Geology.Modern Asia Editions.Tokyo
Herrels,Robert M.1951.A
Texbook of Geology. Harper & Erotners Publisehers,New york.
http://zullogist.blogspot.co.id/2013/05/geologi-dan-geomorfologi-sumatera-dan.html (diakses
tanggal 28 oktober 2016 )
http://apempunyaku.blogspot.co.id/2013/12/struktur-geologi-pulau-jawa.html (diakses tanggal 28 oktober 2016 )
Langganan:
Postingan (Atom)