Jumat, 28 Oktober 2016

STRUKUTUR GEOLOGI PULAU JAWA

Tugas
Geologi Pulau Jawa
Di Susun

O
L
E
H

Nama : Iskan
Nim : 451413070




Jurusan Ilmu Dan Teknologi Kebumian
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Univesritas Negeri Gorontalo
2016



Sejarah Geologi Pulau Jawa
Menurut para ahli, Pulau Jawa terbentuk akibat peristiwa vulkanik, yakni terjadinya gempa yang disebabkan oleh tubrukan dua lempeng benua Australia dan Asia sekitar 20 juta tahun sebelum masehi. Pada saat itu, daratan wilayah jawa tengah dan jawa timur belum muncul dan masih berupa lautan. Kemudian sekitar Lima juta tahun yang lalu konfigurasi serta bentuk pulau-pulau diIndonesia sudah mirip dengan yang ada saat ini. Pulau Jawa dan pulau Sumatra sudah terdapat gunung-gunung api yg aktif hingga saat ini. Patahan-patahan di sumatra masih saja bergerak, juga saat itu patahan-patahan Jawa mulai terbentuk dan semakin jelas.
Pendapat mengenai anggapan bahwa kawasan jawa tengah dan jawa timur dulunya merupakan dasar laut, ialah dengan di temukanya fosil – fosil binatang laut berusia jutaan tahun di beberapa tempat di pulau ini. Salah satunya adalah sangiran dan wonosari, Jawa tengah. Bukti lainya ialah dengan banyaknya dijumpai gunung gamping di daerah selatan Pulau Jawa. Yang menurut para ahli geologi/kebumian, bahwa gamping itu dulunya terumbu karang yg hidup dan berada di laut. Sebagai contoh Pulau Seribu atau Great Barier di sebelah timur Australia.
Konon, proses tersebut terjadi pada 20-36 juta tahun yang silam. Anak benua yang di selatan sebagian terendam air laut, sehingga yang muncul di permukaan adalah gugusan-gugusan pulau yang merupakan mata rantai gunung berapi. Gugusan pulau-pulau di Asia Tenggara, yang sebagian adalah Nuswantoro (Nusantara), yang pada zaman dahulu disebut Sweta Dwipa. Dari bagian daratan ini salah satunya adalah gugusan anak benua yang disebut Jawata, yang satu potongan bagiannya adalah pulau Jawa.
Proses Pembentukan Pulau Jawa
1.      Pengaruh gerak lempeng
a.       Kala kapur hingga oligosen tengah diperkirakan busur vulkanis terbentuk di Pulau Jawa dan satu busur vulkanis terbentuk di daratan Pulau Jawa.
b.      Busur non volkanis di perkirakan berumur eosen, tersusun oleh fragmen kerak bumi yang tertimbun pada jalur subdaksi dan mengandung kwarsa.
c.       Antar busur volkanis dan non volkanis terdapat cekungan busur luar yang relative dalam, terletak di sekitar pantai utara Jawa.
d.       Akhir miosen dan oligosen terjadi perubahan tegas yaitu jalur subdaksi bergeser ke selatan.
e.       Busur volkanis diperkirakan di pantai selatan Pulau Jawa sekarang. Gunung api muncul di dasar laut membentuk deretan gunung api. Aktivitas vulkanik ini merupakan tahap pertama pembentukan Pulau Jawa.
f.        Satu busur gunungapi dengan laut dangkal yang luas sampai Kalimantan (sampai pliosen tengah)
g.      Busur dalam bergeser ke utara hingga pantai utara Jawa, laut dangkal mengalami pengangkatan membentuk daratan sehingga sedimen marin muncul ke atas permukaan laut. Kala pliosen kuarter garis besar pulau Jawa sudah terbentuk.
h.       Akhir pliosen di perkirakan Pulau Jawa sering tenggelam yang muncul hanya perbukitan di bagian selatan Jawa.
2.      Pengaruh iklim
a.       Pada zaman kuarter terjadi perubahan tegas iklim di bumi.
b.      Sebelumnya pada zaman tersier iklim di wilayah Indonesia merupakan iklim tropis lembab dengan suhu rata-rata pertahun lebih tinggi dari sekarang.
c.       Perubahan iklim menyebabkan berbagai peristiwa seperti terjadinya zaman es dan zaman pencairan es, yang akibatnya terbentuk teras marin, pembentukan sedimen pada lingkungan marin di darat dan pembentukan sedimen darat di lingkungan marin.
d.      Pengaruh iklim tersebut berpengaruh pada proses pelapukan, erosi, abrasi, dan gerak masa batuan, yang sangat menentukan bentukan geomorfologis dan pembentukan tanah.
Struktur Geologi Daerah Jawa 
Perkembangan tektonik pulau Jawa dapat dipelajari dari pola-pola struktur geologi dari waktu ke waktu. Struktur geologi yang ada di pulau Jawa memiliki pola-pola yang teratur. Secara geologi pulau Jawa merupakan suatu komplek sejarah penurunan basin, pensesaran, perlipatan dan vulkanisme di bawah pengaruh stress regime yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Secara umum, ada tiga arah pola umum struktur yaitu arah Timur Laut –Barat Daya (NE-SW) yang disebut pola Meratus, arah Utara – Selatan (N-S) atau pola Sunda dan arah Timur – Barat (E-W) (Gambar 7).
            Perubahan jalur penunjaman berumur kapur yang berarah Timur Laut – Barat Daya (NE-SW) menjadi relatif Timur – Barat (E-W) sejak kala Oligosen sampai sekarang telah menghasilkan tatanan geologi Tersier di Pulau Jawa yang sangat rumit disamping mengundang pertanyaan bagaimanakah mekanisme perubahan tersebut. Kerumitan tersebut dapat terlihat pada unsur struktur Pulau Jawa dan daerah sekitarnya.
 

Gambar 7. Pola stuktur di Pulau Jawa berupa pola Meratus , pola Sunda dan arah Timur – Barat (Sujanto dan Sumantri , 1977 dalam Natalia dkk., 2010).
Pola Meratus di bagian barat terekspresikan pada Sesar Cimandiri, di bagian tengah terekspresikan dari pola penyebarab singkapan batuan pra- Tersier di daerah KarangSambung.
 Sedangkan di bagian timur ditunjukkan oleh sesar pembatas Cekungan Pati, “Florence” timur, “Central Deep”. Cekungan Tuban dan juga tercermin dari pola konfigurasi Tinggian Karimun Jawa, Tinggian Bawean dan Tinggian Masalembo. Pola Meratus tampak lebih dominan terekspresikan di bagian timur. 
Pola Sunda berarah Utara - Selatan, di bagian barat tampak lebih dominan sementara perkembangan ke arah timur tidak terekspresikan.Ekspresi yang mencerminkan pola ini adalah pola sesar-sesar pembatas Cekungan Asri, Cekungan Sunda dan Cekungan Arjuna.
 Pola Sunda pada Umumnya berupa struktur regangan.Pola Jawa di bagian barat pola ini diwakili oleh sesar-sesar naik seperti sesar Beribis dan sesar-sesar dalam Cekungan Bogor. Di bagian tengah tampak pola dari sesar-sesar yang terdapat pada zona Serayu Utara dan Serayu Selatan (Gambar 8). Di bagian Timur ditunjukkan oleh arah Sesar Pegunungan Kendeng yang berupa sesar naik.
Dari data stratigrafi dan tektonik diketahui bahwa pola Meratus merupakan pola yang paling tua. Sesar-sesar yang termasuk dalam pola ini berumur Kapur sampai Paleosen dan tersebar dalam jalur Tinggian Karimun Jawa menerus melalui Karang Sambung hingga di daerah Cimandiri Jawa Barat. Sesar ini teraktifkan kembali oleh aktivitas tektonik yang lebih muda.
Pola Sunda lebih muda dari pola Meratus. Data seismik menunjukkan Pola Sunda telah mengaktifkan kembali sesar-sesar yang berpola Meratus pada Eosen Akhir hingga Oligosen Akhir. 
   Pola Jawa menunjukkan pola termuda dan mengaktifkan kembali seluruh pola yang telah ada sebelumnya (Pulunggono, 1994 dalam Natalia dkk., 2010 ). Data seismik menunjukkan bahwa pola sesar naik dengan arah barat-timur masih aktif hingga sekarang.
 
Gambar 8. Pola struktur dan sesar di Pulau Jawa ( Natalia dkk., 2010)
TOPOGRAFI PULAU JAWA
Pulau Jawa memiliki sifat fisiografi yang khas, dan hal ini disebabkan karena beberapa keadaan. Satu di antaranya adalah iklim tropis, disamping itu ciri-ciri geografisnya disebabkan karena merupakan geosinklinal muda dan jalur orogenesa dengan banyak vulkanisme yang kuat. Karena kekuatan inilah mengakibatkan Pulau Jawa berbentuk memanjang dan sempit.

 

Perubahannya dalam bagian-bagian tertentu sepanjang dan searah dengan panjangnya pulau, dari tepi satu ke tepi yang lainnya. Sifat relief yang disebabkan oleh iklim tropis sudah diketahui dan dipetakan di Indonesia. Curah hujan yang besar dan temperatur yang tinggi menyebabkan pelapukan yang cepat dan intensif, juga denudasi, gejala yang mengikuti adalah erosi vertikal.
Perbedaan topografi yang disebabkan adanya perbedaan batu-batuannya nampak kurang jelas bila dibandingkan dengan daerah iklim lain, meskipun lembah kecil mempunyai tebing yang curam. Akibatnya banyak hujan berarti banyak air yang harus dibuang, sehingga banyak parit alam (guliy) yang begitu rapat.
Karena banyaknya parit-parit yang rapat tersebut topografinya terkikis-kikis. Akibatnya sisa-sisa permukaan yang dulu pernah terangkat hilang dalam waktu yang singkat.Sebaliknya peneplain dan lain-lain yang permukaannya datar juga terbentuk dalam waktu yang singkat dari pada iklim yang lainnya. Dalam hal ini mungkin mengherankan mengapa topografi Pulau Jawa semuanya belum merupakan peneplain? Hal ini karena erosi dan denudasi dapat diimbangi orogenesa muda dan epirogenesa yang masih bergerak, yang mana gerak pelipatan masih terus berlangsung dalam sebuah periode dari era pleistosen, tapi di balik itu semua gunung berapi banyak mengeluarkan bahan-bahan material yang lebih banyak daripada apa yang dihasilkan oleh gejala erosi pada permukaan tanah.
Penggolongan Zona Fisiografi Jawa
Zona fisiografi di jawa dapat digolongkan sebagai berikut:
1.        Zona selatan,
Kurang lebih berupa plato, berlereng (miring) ke arah selatan menuju Laut Hindia dan di sebelah utara berbentuk tebing patahan. Kadang zona ini begitu terkikis sehingga kehilangan bentuk platonya. Di Jawa tengah bagian dari zona ini telah ditempati oleh dataran aluvial.
2.        Zona tengah,
Di Jawa Timur dan sebagian dari Jawa Barat merupakan depresi. Ditempat-tempat tersebut muncul kelompok gunung berapi yang besar. Di Jawa Tengah sebagian dari zona tengah ditempati oleh rangkaian pegunungan serayu selatan, berbatasan disebelah utaranya dengan depresi yang lebih kecil, lembah serayu. Juga di bagian paling barat daerah Banten ditempati oleh bukit-bukit dan pegunungan.
3.        Zona utara,
Terdiri dari rangkaian gunung lipatan berupa bukit-bukit rendah atau pegunungan dan diselingi oleh beberapa gunung-gunung api. Dan ini biasanya berbatasan dengan dataran aluvial.
Sifat Ketiga Zona dari Sudut Geologi:
1.        Zona Selatan
Di zona selatan ini lapisan yang lebih tua terdiri dari endapan vulkanis yang tebal (breksi tua) dan bahan-bahan endapan (seperti tanah anulatus) yang terlipat pada waktu periode miosen tengah. Di bagian selatan zona ini mengalami lipatan sedikit saja, tetapi lipatan ini menjadi lebih kuat dekat batas sebelah utara. Daerah ini merupakan daerah peralihan ke zona tengah. Bagian ini ditutupi secara tidak selaras (unconform) oleh bahan-bahan yang tidak terlepas dari miosen atas.
Di banyak tempat lapisan ini telah dipengaruhi gerakan miring (tilted). Dibeberapa tempat dasar (alas/bed) miosen atas ini terdiri dari batuan kapur yang mempunyai pengaruh yang sangat nyata pada topografi. Endapan yang lebih muda dari miosen muda mungkin pleistosen tua hampir tidak ada.
2.        Zona Tengah
Seperti di Jawa Timur zona ini ditempati oleh depresi yang diisi oleh endapan vulkanik muda. Sifat geologisnya hanya dapat dilihat dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Gerakan orogenesa miosen tengah dan miosen muda sangat kuat (terkuat) di zona ini dan sering menyebabkan lipatan menjungkir atau membentuk struktur yang menjorok menyebabkan batuan tertier juga lapangan pretertier tertutup. (Pegunungan Jiwo, daerah Lekulo di Jawa Tengah, Pegunungan Raja Mandala, Lembah Cimandiri dan Banten bagian selatan).
Pada periode neogene terdapat juga beberapa lapisan tak selaras dan sedikit lipatan yang terjadi pada atau setelah akhir neogen. Pegunungan berapi dan gerakan lipatan yang terdapat didepresi tengah menyebabkan terbentuknya topografi-topografi yang khas.
3.        Zona Utara
Di zona ini lapisan neogen muda lebih tebal dibanding zona lainnya, dan ini adalah inti dari gerakan geosinklinal muda. Lipatan yang lebih tua terjadi sejak dari periode miosen atas. Lipatan ini nampak lebih jelas dari zona tengah tetapi juga dapat dilihat di zona utara dari jawa tengah. Di lain tempat pengendapan bahkan mungkin berlangsung selama periode miosen tengah dan miosen atas.
Di igir Pegunungan Kendeng (Jawa Timur) pengendapan pada geosinklinal berjalan terus sampai pleistosen tengah. Selama pleistosen tengah orogenesa dihasilkan dari lipatan yang keras dengan lipatan yang terbalik (upturned fold and thrust). Lebih menuju ke periode kwarter mungkin dapat dilihat tetapi pelipatan pleistosen tengah berjalan terus dan menonjol.
Di jawa barat gerakan pelipatan utama terjadi pada permulaan pleistosen kemudian diikuti oleh gerakan lipatan yang lemah setelah periode igir pleistosen tua. Di sebelah utara igir Pegunungan Kendeng di Jawa Timur, terdapat jalur yang tidak mempunyai lanjutan di Jawa Tengah dan di Jawa Barat tetapi bagian ini memanjang ke timur ke Madura. Bagian yang terdapat di bagian sebelah utara igir Pegunungan Kendeng ini disebut Perbukitan Rembang.
Di daerah ini lapisan neogen jauh lebih tipis daripada di Pegunungan Kendeng dan terdiri sebagian dari batuan kapur. Zona ini terletak di sebelah utara dari poros geosinklinal neogen, membentuk daerah peralihan antara masa dataran yang sekarang ditempati oleh Laut Jawa yang terjadi pada zaman miosen dengan poros Pegunungan Kendeng itu sendiri. Beberapa pengendapan berjalan terus selama periode atau bagian dari era pleistosen, selama mana gerakan lipatan sedikit mengakhiri pengendapan.

Stratigrafi pulau jawa
            Stratigrafi di daerah ini terdiri dari batuan berumur Tersier hingga Kuarter. Formasinya antara lain: Formasi Pemali, Formasi Rembatan, Formasi Haling, Batuan Terobosan, Formasi Kumbang, Formasi Tapak, Formasi Kalibiuk, Formasi Kaligala, Formasi Ligung, Formasi Mengger, Formasi Gintung, Formasi Lingopodo, dan Aluvial ( Djuri dkk, 1996 ). Selain itu juga terdapat beberapa penelitian yang terdahulu yang membuat stratigrafi daerah penelitian antara lain: Van Bemmelan (1949), Marks (1957), Kartanegara dkk, (1987), dan Kastowo dan Suwarna (1996). Pembahasan stratigrafi regional mengacu kepada peneliti-peneliti tersebut.
Batuan Terobosan
            Batuan ini terdiri dari profir mikrodiorit, berwarna coklat tua dan hitam, pejal, lapuk. Bertekstur holokristalin subdiabas porfirit dengan fenokris felspar dan mineral-mineral felmis. Sebagian mineral felmis lapuk sehingga berongga-rongga ( Djuri dkk, 1996 ). Batuan ini diperkirakan berumur tersier.
Formasi Rambatan
            Formasi ini terdiri dari serpih, napal dan batu pasir gampingan. Napal berselang-seling dengan batu pasir gampingan berwarna kelabu muda. Banyak ditemukan lapisan tipis kalsit yang tegak lurus bidang perlapisan ( Djuri dkk, 1996 ). Mengenai umur formasi ini masih ada perbedaan pendapat dari beberapa peneliti terdahulu. Kandungan foraminifera besar menunjukkan umur miosen tengah sedangkan berdasarkan kandungan foraminifera plankton berumur Miosen akhir-pliosen Awal ( N14-N 18) (Kartanegara dkk, 1987). Formasi ini memiliki tebal sekitar 300 meter (Djuri dkk, 1996).
Formasi Halang
            Formasi ini terdiri dari batu pasir, terdapat bekas jejak cacing, foraminifera kecilnya menunjukkan umur Miosen akhir hingga Pliosen. Formasi ini memiliki ketebalan 800 meter (Djuri dkk, 1996). Formasi Halang merupakan jenis endapan sedimen terdirit pada zona bathyal atas ( Kastowo dan Suwarna, 1996). Dibeberapa tempat pada bagian atas formasi ini, dijumpai batu gamping terumbu (Marks 1957).
Formasi Kumbang
            Formasi ini terdiri dari batu pasir berbutir kasar berwarna kehijauan, konglomerat dan breksit andesit. Di bagian atas terdiri dari batu pasir gampingan dan napal berwarna hijau yang mengandung pecahan moluska. For masi Tapak memiliki dua anggota, yaitu: Anggota Breksi Formasi Tapak dan Anggota Batugamping Formasi Tapak (Djuri dkk, 1996). Anggota breksi terdiri dari breksi gunungapi dengan matriks batupasir tufan dan dibeberapa tempat terdapat kalsit yang mengisi celah-celah. Anggota batugamping terdiri dari lensa-lensa berwarna kelabu kekuningan dan tidak berlapis. Formasi Tapak memiliki ketebalan sekitar 500 m. formasi ini memiliki umur Miosen Tengah-Pliosen Awal (Djuri dkk, 1996). Formasi ini diendapkan secara selaras Formasi Kalibiuk.
Formasi Kalibiuk
            Formasi ini terdiri dari napal lempungan bersisipan batu batupasir. Batupasir di formasi ini kaya akan moluska (Djuri dkk, 1996). Pada bagian tengah formasi ini terdapat sisipan lensa-lensa batupasir hijau yang mengandung moluska yang melimpah dari kelompok cheribonian molusca yang mencirikan fasies pasang surut yang berumur Pliosen (Marks, 1957). Formasi ini dapat disetarakan dengan formasi Cijulang dibagian barat atau dengan Bodas Series dibagian timur (Marks, 1957). Formasi ini memiliki ketebalan sekitar 175 meter (Djuri dkk, 1996).
Formasi Kaligalah
            Formasi ini teridir dari batu lempung, napal, batupasir, dan konglomerat. Dibeberapa tempat terdapat lensa lignit setebal 10-100 cm (Djuri dkk, 1996). Pada lapisan lignit atau batubara muda tersebut ditemukan fosil mamalia dan moluska air tawar dengan indikasi umur Pliosen Akhir (Marks, 1957). Menurut koengniswald (1935, op.cit.Marks, 1957), mamalia yang ditemukan disatuan ini, Djuri dkk, (1996) memberikan umur Pliosen Akhir juga.
Formasi Ligung
            Formasi ini terdiri dari aglomerat andesit, breksi dan tuff kelabu di beberap tempat (Djuri dkk, 1996). Formasi ini memiliki anggota, yaitu Anggota Lempung Formasi Ligung. Anggota Lempung Formasi Ligung ini terdiri dari batu lempung tufan, batupasir tufan berlapis silang siur dan konglomerat. Dibeberapa tempat terdapat juga sisa tumbuhan dan batubara muda yang mengindikasikan lingkungan pengendapan berada darat bukan laut (Djuri, dkk 1996).
Formasi Mengger
            Formasi ini terdiri dari tuf berwarna kelabu muda, batupasir tufan, konglomerat, dan batupasir dengan fragem magnetit (Djuri dkk, 1996). Pada formasi ini ditemukan fosil mamalia yang termasuk kedalam kategori upper vertebrate zone yang menunjukkan umur Pleistosen Awal (Marks, 1957). Ketebalan formasi ini diperkirakan sekitar 150 m (Djuri dkk, 1996).
Formasi Gintung
            Formasi ini terdiri dari konglomerat dengan fragmen andesit, batupasir berwarna kehijauan, batulempung dengan konkresi batugamping pasiran dan tuff (Djuri dkk, 1996). Satuan ini berada diatas upper vertebrate zone sehingga satuan ini diperkirakan berumur Pleistosen Tengah-akhir (Marks, 1957).
Formasi Linggopodo
            Formasi ini terdiri dari breksi gunung api, tuff dan lahar yang diduga sebagai hasil kegiatan gunung Slamet atau Gunung Copet ( Van Bemmelan, 1949 ). Satuan ini menindih tak selaras dengan satuan dibawahnya, serta ditutupi oleh endapan Gunung Slamet Purba.
Satuan Aluvial
            Satuan ini terdiri dari batupasir, batulanau, batugamping, jasper dan andesit. Berukuran lanau, pasir, kerikil, dan kerakal dengan tebal kurang dari 150 m. satuan ini diendapkan di sepanjang sungai.
              
STRUKTUR GEOLOGI JAWA TIMUR
Gambaran Umum Jawa Timur dilihat dari Aspek Geologi
       Provinsi Jawa Timur terletak pada 111˚0’ hingga 114˚4’ Bujur Timur, dan 7˚12’     hingga 8˚48’ Lintang Selatan. Luas wilayah Provinsi Jawa Timur mencapai 46.428 km², terbagi kedalam empat badan koordinasi wilayah (Bakorwil), 29 kabupaten, Sembilan kota, dan 658 kecamatan dengan 8.457 desa/kelurahan (2.400 kelurahan dan 6.097 desa).
Secara umum wilayah Jawa Timur terbagi dalam dua bagian besar, yaitu Jawa Timur daratan hampir mencakup 90% dari seluruh luas wilayah Provinsi Jawa Timur, dan wilayah Kepulauan Madura yang sekitar 10% dari luas wilayah Jawa Timur. Di sebelah utara, Provinsi Jawa Timur berbatasan dengan Laut Jawa. Di sebelaht timur berbatasan dengan Selat Bali.Di sebelah selatan berbatasan dengan perairan terbuka, Samudera Indonesia, sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah.
Secara umum wilayah Provinsi Jawa Timur merupakan kawasan subur dengan berbagai jenis tanah seperti Halosen, Pleistosen, Pliosen, Miosen, dan Kwarter yang dipengaruhi adanya gunung berapi, sekitar 20,60 % luas wilayah yaitu wilayah puncak gunung api dan perbukitan gamping yang mempunyai sifat erosif, sehingga tidak baik untuk dibudidayakan sebagai lahan pertanian. Sebagian besar wilayah Jawa Timur mempunyai kemiringan tanah 0-15 %, sekitar 65,49 % dari luas wilayah yaitu wilayah dataran aluvial antar gunung api sampai delta sungai dan wilayah pesisir yang mempunyai tingkat kesuburan tinggi dan dataran aluvial di lajur Kendeng yang subur, sedang dataran aluvial di daerah gamping lajur Rembang dan lajur Pegunungan Selatan cukup subur.
Kondisi geologi Jawa Timur yang cukup kaya akan potensi sumberdaya mineral, memiliki sekitar 20 jenis bahan galian yang mendukung sektor industri maupun konstruksi, yang secara umum dapat dikelompokkan menjadi empat lajur, yaitu: pertama lajur Rembang terbentuk oleh batu lempung napalan dan batu gamping merupakan cekungan tempat terakumulasinya minyak dan gas bumi; kedua lajur Kendeng terbentuk batu lempung dan batupasir, potensi lempung, bentonit, gamping; ketiga lajur Gunung Api Tengah terbentuk oleh endapan material gunung api kuarter, potensi bahan galian konstruksi berupa batu pecah (bom), krakal, krikil, pasir, tuf; keempat lajur Pegunungan Selatan terbentuk oleh batu gamping dengan intrusi batuan beku dan aliran lava yang mengalami tekanan, potensi mineral logam, marmer, onyx, batu gamping, bentonit, pospat.
Struktur Geologi Jawa Timur
·         Cekungan Jawa Timur Utara
Cekungan Jawa Timur Utara sebelah barat dibatasi oleh Busur Karimun jawa dimana memisahkannya dengan Cekungan Jawa Barat Utara, di sebelah selatan dibatasi oleh busur vulkanik, sebelah timur dibatasi oleh Cekungan Lombok dan sebelah utara dibatasi oleh Tinggian Paternoster, dimana memisahkannya dengan selat Makasar.
Berdasarkan posisinya, Cekungan Jawa Timur Utara dapat dikelompokkan sebagai cekungan belakang busur dan berada pada batas tenggara dari lempeng Eurasia.
·         Kerangka Tektonik Cekungan Jawa Timur Utara
Graben, half-graben, dan sesar-sesar hasil dari proses rifting telah dihasilkan
pada periode ekstensional yaitu pada Paleogen. Selanjutnya periode kompresi dimulai pada Miosen Awal yang mengakibatkan reaktivasi sesar-sesar yang telah terbentuk sebelumnya pada periode ekstensional. Reaktivasi tersebut mengakibatkan pengangkatan dari graben-grabenyang sebelumnya terbentuk menjadi tinggian yang sekarang disebut sebagai Central High. Pada saat sekarang, Cekungan Jawa Timur Utara dikelompokkan ke dalam tiga kelompok struktur utama dari arah utara ke selatan, yaitu North Platform, Central Highdan South Basin
Perubahan struktur juga terjadi pada konfigurasi basement dari arah barat ke timur. Bagian barat pada Platform Utara dapat dikelompokkan menjadi Muria Trough, Bawean Arc, JS-1 Ridge, Norhteast Java Platform, Central-Masalembo Depression, North Madura Platformdan JS 19-1Depression. Sedangkan pada South Basin, dari barat ke timur dapat dikelompokkan menjadi North East Java Madura Sub-Basin(Rembang-Madura Strait-Lombok Zone), South Madura Shelf (kelanjutan dari Zona Kendeng) dan Solo Depression Zone. Pada Central High tidak ada perubahan struktur yang berarti dari arah barat ke timur. Daerah Cepu termasuk ke dalam South Basinsebelah barat, dimana termasuk ke dalam Zona Rembang bagian selatan. Pada konfigurasi basement yang lebih detail, daerah Cepu termasuk ke dalam Kening Trough.

STRUKTUR GEOLOGI JAWA TENGAH
Daerah Jawa Tengah merupakan bagian yang sempit diantara bagian yang lain dari pulau jawa. Derah Jawa Tengah tersebut terbentuk oleh dua pegunungan yaitu Pegunungan Serayu Utara yang berbatasan dengan jalur Pegungungan Bogor di sebelah barat dan Pegunungan Kendeng di sebeah timur, serta Pegunungan Serayu Selatan yang merupakan terusan dari Depresi Bandung di Jawa Barat. Di jawa tengah dapat pula ditemui di gunung bujil yang berupa dike basaltik yang memotong farmasi karang sambung di bayat dapat ditemui diperbukitan jiwo berupa dike basaltik dan stok gabroik yang memotong sekis kristalin dan farmasi gampin wungkal.magmatisme oligosen miosen tengah pulau jawa terbentuk oleh rangkaian gunung api yang berumur oligosen-meosen tengah dan poliosen-kuarter.
Fisiografi dan pagunungan regional
            Stratigrafi pegunugan kulon progo daerah penelitian yang merupakan daerah sebelah timur dari pegunungan serayu selatan,secara stratigrafis termasuk daerah kulon progo.unit stratigrafis yang paling tua di daerah pegunungan kulon progo dikenal dengan formasi nanggulan.
      1)      Formasi nanggulan :merupakan farmasi yang paling tua di daerah pegunungan kulon progo.slingkapan batuan-batuan penyusun dari farmasi nanggulan,dijumpai di sekitar desa nanggulan,yang merupakan kaki sebelah timur dari pegunungan kulon progo.
      2)      Formasi andesit :merupakan tua Batuan penyusun dari formasi ini trdiri atas braksi andesit,tuf,tuf tapili,aglomerat dan sisipan aliran lava andesit.formasi andesit ini dengan ketebalan 500 meter mempunyai kedudukan yang tidak selaras di atas formasi nanggulan.
      3)      Formasi jonggrangan :merupakan suatu desa yang ketinggiannyan di atas 700 meter dari muka air laut dan disebut sebagai plato jonggrangan.bagian bawah dari formasi ini terdiri dari konglomerat yang ditumpangi oleh napal tufan batu pasir gampingan dengan sisipan lignit.batuan ini semakin ke atas menjadi batu gamping koral,formasi jonggrangan ini terletak secara tidak selaras teletak di atas formasi andesit tua.ketebalan dari formasi janggrangan mencapai sekitar 250 meter 
      4)      Formasi sentolo : Litologi penyusun formasi sentolo ini dibagian bawah, terdiri dari agromerit dan napal,semakin ke atas berubah menjadi batu gamping berlapis dengan fasies neritik.umur formasi sentolo ini berdasarkan penelitian terhadap fosil foraminifera plantonik adalah berkisar antara Miosen awal sampai Pliosen.formasi sentolo ini mempunyai ketebalan sekitar 950 meter.
Geologi Regional Cekungan Jawa Timur.
Secara geologi Cekungan Jawa Timur terbentuk karena proses pengangkatan dan ketidakselarasan serta proses-proses lain, seperti penurunan muka air laut dan pergerakan lempeng tektonik. Tahap awal pembentukan cekungan tersebut ditandai dengan adanya half graben yang dipengaruhi oleh struktur yang terbentuk sebelumnya. Tatanan tektonik yang paling muda dipengaruhi oleh pergerakan Lempeng Australia dan Sunda. Secara regional perbedaan bentuk struktural sejalan dengan perubahan waktu.Pegununggan serayu utara memliki las 30-50 km,pada bagian barat di batasi oleh gunung selamet dan di bagian timur ditutupi oleh endapan gunung api muda.Gunung perahu dan gunung ungaran merupakan gunug api kwarter yang menjadi bagian paling timur dari pegunungan serayu utara.Daerah gunung ungaran ini di sebelah utara berbatasan dengan dataran aluvial jawa di bagian utara ,di bagian selatan merupakan jalur pegunungan api kwarter, di bagian tmur berbatasan dengan pegunungan kendeng .Di bagian utara pulau jawa ini merupakan geo sinklin yang memanjang dari barat ke timur.
      a.       Batuan Pra-Tersier
                     Merupakan semua batuan yang berumur lebih tua dari Tersier, mendasari batuan Kenozoikum biasanya telah mengalami ubahan. Di Jawa Timur bagian Utara batuan Pra-Tersier tidak tersingkap di permukaan dan kehadirannya hanya dapat diketahui dari sumur-sumur pemboran yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan minyak bumi yang beroperasi di Indonesia. Batuan Pra-Tersier terletak secara tidak selaras di bawah batuan Sedimen-Tersier.

      b.      Formasi Ngimbang
                     Sedimen yang terjadi di Formasi Ngimbang berupa batulempung, batupasir dan batuan karbonat yang terendapkan pada lingkungan darat-fluvial deltaic sampai laut dangkal. Formasi ini berumur Eosen Tengah sampai Oligosen Tengah Eosen Tengah-Oligosen tengah, terjadi proses sedimentasi pertama didaerah cekungan dengan terendapnya Formasi Ngimbang.
      c.       Formasi Kujung
                     Formasi Kujung pada bagian tinggiannya, berkembang sebagai batugamping terumbu, sedangkan di daerah cekungan berkembang sebagai batugamping klastik dan batulempung. Proses transgresi terus berlangsung hingga pada masa Oligosen Tengah – Miosen Bawah.
      d.      Formasi Tuban
                     Pada daerah tinggian Formasi Tuban, berkembang batu gamping terumbu sebagai kelanjutan pertumbuhan terumbu Formasi Kujung sedangkan di daerah cekungan diendapkan secara dominan batulempung dan batulanau dengan sisipan batugamping klastik. Pengaruh proses transgresi yang lebih besar pada umur Miosen Tengah – Miosen Atas menyebabkan seluruh daerah tinggian menjadi tenggelam.
      e.       Formasi Ngrayong
 Formasi ini ditandai dengan adanya lapisan batupasir kuarsa dan batugamping klastik. Ciri litologinya adalah batulempung dan batupasir, dengan sedikit sisipan batugamping. Umur Formasi Ngrayong adalah Miosen Tengah. Formasi Ngrayong terletak selaras di atas Formasi Tuban dan diendapkan secara selaras di bawah Formasi Wonocolo.
      f.       Formasi Wonocolo
               Formasi Wonocolo terdiri dari batulempung karbonat berwarna kelabu yang halus serta marl dengan batugamping yang keras berwarna putih. Ciri pengenal adalah napal, napal lempungan, napal pasiran, kaya akan foraminifera plangtonik dengan sisipan kalkarenit. Stratigrafinya adalah Miosen Akhir bagian bawah- Miosen akhir bagian tengah atau Zona N15-N16 (Blow,1969).

      g.      Formasi Kawengan
Formasi Kawengan terdiri dari dua anggota (member) yaitu :
·         Member Mundu (Pliosen Awal – Pliosen Akhir), yang tersusun oleh napal dan napal pasiran serta batugamping pasiran. Formasi ini terendapkan setelah Formasi Ledok yang dipengaruhi oleh proses regresi ke transgresi.
·         Member Ledok (Miosen Awal- Pliosen Awal), yang tersusun oleh batupasir gampingan, batugamping pasiran dan napal, formasi ini diendapkan di atas Formasi Wonocolo. Batugamping terumbu pada formasi ini oleh sebagian peneliti disebut Karren Limestone.
      h.      Formasi Lidah
               Formasi Lidah didominasi oleh endapan napal, yang dipengaruhi oleh proses transgresi yang terus berlangsung hingga Pleistosen, sehingga menyebabkan pendalaman daerah cekungan. Ciri pengenalnya adalah lempung biru tua yang monoton, bagian atas satuan ini dijumpai lapisan batupasir kwarsa sedangkan Anggota Malo dari Formasi Lidah terdiri atas batugamping Coquina.

STRUKTUR GEOLOGI JAWA BARAT
Jawa Barat memiliki  arah pola umum struktur   Timur Laut –Barat Daya (NE-SW) yang disebut pola Meratus, dari data stratigrafi dan tektonik diketahui bahwa pola Meratus merupakan pola yang paling tua. Sesar-sesar yang termasuk dalam pola ini berumur Kapur sampai Paleosen dan tersebar dalam jalur Tinggian Karimun Jawa menerus melalui Karang Sambung hingga di daerah Cimandiri Jawa Barat. Sesar ini teraktifkan kembali oleh aktivitas tektonik yang lebih muda. Pola Sunda lebih muda dari pola Meratus. Data seismik menunjukkan Pola Sunda telah mengaktifkan kembali sesar-sesar yang berpola Meratus pada Eosen Akhir hingga Oligosen Akhir.
Pola Jawa di bagian barat pola ini diwakili oleh sesar-sesar naik seperti sesar Beribis dan sear-sear dalam Cekungan Bogor. Di bagian tengah tampak pola dari sesar-sesar yang terdapat pada zona Serayu Utara dan Serayu Selatan. Di bagian Timur ditunjukkan oleh arah Sesar Pegunungan Kendeng yang berupa sesar naik.
 Menurut Harsono P. (1983) Stratigrafi daerah kendeng terbagi menjadi dua cekungan pengendapan, yaitu Cekungan Rembang (Rembang Bed) yang membentuk Pegunungan Kapur Utara, dan Cekungan Kendeng (Kendeng Bed) yang membentuk Pegunungan Kendeng. Formasi yang ada di Kendeng adalah sebagi berikut:
1. Formasi Kerek
Formasi ini mempunyai ciri khas berupa perselingan antara lempung, napal lempungan, napal, batupasir tufaan gampingan dan batupasir tufaan. Perulangan ini menunjukkan struktur sedimen yang khas yaitu perlapisan bersusun (graded bedding) yang mencirikan gejala flysch. Berdasarkan fosil foraminifera planktonik dan bentoniknya, formasi ini terbentuk pada Miosen Awal – Miosen Akhir ( N10 – N18 ) pada lingkungan shelf. Ketebalan formasi ini bervariasi antara 1000 – 3000 meter. Di daerah Lokasi Tipe, formasi ini terbagi menjadi 3 anggota (de Genevreye & Samuel, 1972), dari tua ke muda masing-masing : a. Anggota Banyu Urip Tersusun oleh perselingan antara napal lempungan, napal, lempung dengan batupasir tuf gampingan dan batupasir tufaan dengan total ketebalan 270 meter. Pada bagian tengah perselingan ini dijumpai batupasir gampingan dan tufaan setebal 5 meter, sedangkan bagian atas ditandai oleh adanya perlapisan kalkarenit pasiran setebal 5 meter dengan sisipan tipis dari tuf halus. Anggota ini berumur N10 – N15 (Miosen Tengah bagian tengah – atas). b. Anggota Sentul Tersusun oleh perulangan yang hampir sama dengan Anggota Banyuurip, tetapi lapisan yang bertufa menjadi lebih tebal. Ketebalan seluruh anggota ini mencapai 500 meter. Anggota Sentul diperkirakan berumur N16 (Miosen Tengah bagian bawah). c. Batugamping Kerek Anggota teratas dari Formasi Kerek ini tersusun oleh perselang-selingan antara batugamping tufan dengan perlapisan lempung dan tuf. Ketebalan dari anggota ini adalah 150 meter. Umur dari Batugamping Kerek ini adalah N17 (Miosen Atas bagian tengah).
2. Formasi Kalibeng
 Formasi ini terletak selaras di atas Formasi Kerek. Formasi ini terbagi menjadi dua anggota yaitu Formasi Kalibeng Bawah dan Formasi Kalibeng Atas. Bagian bawah dari Formasi Kalibeng tersusun oleh napal tak berlapis setebal 600 meter berwarna putih kekuningan sampai abu-abu kebiruan, kaya akan foraminifera planktonik. Asosiasi fauna yang ada menunjukkan bahwa Formasi Kalibeng bagian bawah ini terbentuk pada N17 – N21 (Miosen Akhir – Pliosen). Pada bagian barat formasi ini oleh de Genevraye & Samuel, 1972 dibagi menjadi Anggota Banyak, Anggota Cipluk, Anggota Kalibiuk, Anggota Batugamping, dan Anggota Damar. Di bagian bawah formasi ini terdapat beberapa perlapisan batupasir, yang ke arah Kendeng bagian barat berkembang menjadi suatu endapan aliran rombakan debris flow, yang disebut Formasi Banyak (Harsono, 1983, dalam Suryono, dkk., 2002). Sedangkan ke arah Jawa Timur bagian atas formasi ini berkembang sebagai endapan vulkanik laut yang menunjukkan struktur turbidit. Fasies tersebut disebut sebagai Formasi Atasangin, sedangkan bagian atas Formasi Kalibeng ini disebut sebagai Formasi Sonde yang tersusun mula – mula oleh Anggota Klitik, yaitu kalkarenit putih kekuningan, lunak, mengandung foraminifera planktonik maupun foraminifera besar, moluska, koral, alga, bersifat napalan atau pasiran dan berlapis baik. Bagian atas bersifat breksian dengan fragmen gamping berukuran kerikil sampai karbonat, kemudian disusul endapan bapal pasiran, semakin ke atas napalnya bersifat lempungan, bagian teratas ditempati napal lempung berwarna hijau kebiruan.
3. Formasi Pucangan
            Di bagian barat dan tengah Zona Kendeng formasi ini terletak tidak selaras di atas Formasi Sonde. Formasi ini penyebarannya luas. Di Kendeng Barat batuan ini mempunyai penyebaran dan tersingkap luas antara Trinil dan Ngawi. Ketebalan berkisar antara 61 – 480 m, berumur Pliosen Akhir (N21) hingga Plistosen (N22). Di Mandala Kendeng Barat yaitu di daerah Sangiran, Formasi Pucangan berkembang sebagai fasies vulkanik dan fasies lempung hitam.
4. Formasi Kabuh
 Formasi Kabuh terletak selaras di atas Formasi Pucangan. Formasi ini terdiri dari batupasir dengan material non vulkanik antara lain kuarsa, berstruktur silangsiur dengan sisipan konglomerat dan tuff, mengandung fosil Moluska air tawar dan fosil – fosil vertebrata berumur Plistosen Tengah, merupakan endapan sungai teranyam yang dicirikan oleh intensifnya struktur silangsiur tipe palung, banyak mengandung fragmen berukuran kerikil. Di bagian bawah yang berbatasan dengan Formasi Pucangan dijumpai grenzbank. Menurut Van Bemmelen (1972) di bagian barat Zona Kendeng (daerah Sangiran), formasi ini diawali lapisan konglomerat gampingan dengan fragmen andesit, batugamping konkresi, batugamping Globigerina, kuarsa, augit, hornblende, feldspar dan fosil Globigerina. Kemudian dilanjutkan dengan pembentukan batupasir tuffaan berstruktur silangsiur dan berlapis mengandung fragmen berukuran kecil yang berwarna putih sampai cokelat kekuningan.
5. Formasi Notopuro
            Terletak tidak selaras di atas Formasi Kabuh. Litologi penyusunnya terdiri dari breksi lahar berseling dengan batupasir tufaan dan konglomerat vulkanik. Makin ke atas, sisipan batupasir tufaan makin banyak. Juga terdapat sisipan atau lensa – lensa breksi vulkanik dengan fragmen kerakal, terdiri dari andesit dan batuapung, yuang merupakan ciri khas Formasi Notopuro. Formasi ini pada umumnya merupakan endapan lahar yang terbentuk pada lingkungan darat, berumur Plistosen Akhir dengan ketebalan mencapai lebih dari 240 meter.
6. Formasi Undak Bengawan Solo
 Endapan ini terdiri dari konglomerat polimik dengan fragmen batugamping, napal dan andesit di samping batupasir yang mengandung fosil-fosil vertebrata, di daerah Brangkal dan Sangiran, endapan undak tersingkap baik sebagai konglomerat dan batupasir andesit yang agak terkonsolidasi dan menumpang di atas bidang erosi pad Formasi Kabuh maupun Notopuro.


Referensi ;
Natalia, Eka P., Taufiq Andhika , Roid Faqih M., Dharmaleksa S.E.P, Ade AkhyarNurdin , Belly Dharana Kertiyasa , Novianto Dwi Nugrohao, Bayu Hari Utomo. 2010.”Geologi Pulau  Jawa”. Univesitas Jenderal Soedirman: Purbalingga.

Bemmelen K.W.Van.1949. The Geology of Indonesia vol.general Geology of Indonesia and Adjecent Archipelagoes.Government Printing Office : Haque.
Putnam John.1964. Geology.Oxford Univercity Press : New York.
Whittow Jhon.1984.Dictionary of phisical Geography.penguin Books : Hiedlesex
Lluly,james,Cs.1963.Principle of Geology.Modern Asia Editions.Tokyo
Herrels,Robert M.1951.A Texbook of Geology. Harper & Erotners Publisehers,New york.